Pendidikan Profesi guru Mencetak Guru Masa Depan (Guru Profesional) yang memiliki empat Kompetensi yaitu Pedagogik, Sosial, Kepribadian dan Profesional.
Sabtu, 10 Maret 2018
Malam Minggu : Nonton Bareng (Nobar) Film "The Ron Clark Story"
(Humas Asrama PPG SM3T VI UNM) - Sejumlah mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) SM-3T VI Universitas Negeri Makassar mengikuti kegiatan Nonton Bareng film yang berjudul "The Ron Clark Story” di Pelataran Lantai dasar Asrama PPG SM-3T UNM, Jl. Emy Saelan III pada pukul 20:00 - 22:00 Wita. Film yang dirilis 13 Januari 2006 itu mengisahkan seorang guru yang bernama Ron Clark yang mampu menginspirasi peserta didik. Dengan kegigihannya menghadapi heterogenitas peserta didik yang masing-masing mempunyai latar belakang sosial cukup kompleks.
Kegiatan nonton bareng tersebut diinisiasi oleh biro Pendidikan dan Pelatihan PPG SM-3T VI Universitas Negeri Makassar. Tujuannya supaya calon guru bisa mencontoh kisah dari film tersebut. "Kami berharap agar peserta PPG SM-3T VI UNM bisa mencontohkan bagaimna inovatifnya seorang Ron Clark," tutur Andi Irwansyah, S. Pd. selaku Kabiro Pendiklat (10/3/2018).
Lanjut Irwansyah, "Kemudian dari pada itu kegiatan nonton bareng ini sebagai pengisi waktu senggang karena ini malam minggu, jadi kegiatan seperti ini cocok untuk Peserta PPG SM-3T VI, " tegasnya.
Sementara disisi lain, Reski Andika Saing, S. Pd. salah satu mahasiswi PPG Prodi Matematika yang juga ikut menonton film tersebut ditemui di akhir pemutaran film menyatakan kesannya bahwa film tersebut sangat menginspirasi.
"Film ini sangat menginspirasi kita sebagai calon guru profesional, melihat bagaimana cara Mr. Clark mendekati peserta didik dan keluarganya, menyentuh hatinya sehingga mampu membuat peserta didik menjadi pribadi yang mau mendengar, menghargai orang lain dan percaya diri dengan beberapa rule yang ia buat, " imbuhnya.
===
Penulis :
Amrin Rozali N. S. Pd.
Editor :
Muhammad Nurudin, S. Pd.
Jumat, 09 Maret 2018
Pengakuan Untuk Mawar (dari lelaki yang tak pernah berniat menikahimu) Karya: Mike Rio (mr. _ahmad_jais)
Aku yang mengenal namamu sebagai mawar,
Namun aku tidak pernah mendekskripsikan dirimu sebagai bunga yang selalu indah dengan merahnya.
Hingga kini aku adalah terdakwa sempurna dari kasus kematianmu,
Layu dan kering yang hanya butuh sedikit percikan api untuk menjadikannya abu lalu meniadakanmu.
Akulah pembunuh sempurna dari kasus kematianmu, kematian rasamu.
Juga kuingat pisau terbaik yang kugunakan untuk menikam jantungmu, dan pisau bernama harapan.
Harapan yang banyaknya tak hanya selembar,
Harapan itu berjuta lembar yang pernah kujanjikan.
Intinya itu hanyalah tumpukan kobohongan omong kosongku, dan kau tertakdir buta untuk mempercayai itu.
Hari ini aku masih ingat kata yang mungkin membuatmu sebagai korban sempurna dari kejahatan janjiku.
“aku akan menikahimu”
Tiga rangkain kata yang bisa kuibaratkan sebagai tiga pil manis untuk membuhmu,
dan kaupun terbunuh sebagai sesosok indah yang sempurna.
yang sebenarnya bernafas namun secara rasa kau telah tiada.
Aku bukannya tak tahu kalau ada banyak yang datang setelahku.
Namun sekali lagi kau telah benar-benar mati.
Hingga Sekali lagi ku tegaskan!
Akulah terdakwa dari kematianmu,
Yang kutahu hingga di usia rentamu pun
Kini kau masih sendiri,
Sedang aku?
Maaf, aku telah bahagia dengan takdir jodohku yang sebenarnya...
RINAI Oleh Arifin T. Badu
kau mantra yang luka-luka
oleh ilalang di padang kata
aku mencintaimu
bagai kuda meringkik dalam sunyi
dari murung ombak
aku tahu rahasia mendung
bahwa hujan tak bakal duka
sebab kaulah ceruk langit yang teduh
aku mencintaimu
sepanjang matahari melahirkan pagi
ketika tiba-tiba semesta bening
aku perahu yang berlayar di ranjang rapuh
tak kunjung tenggelam
sebab laut belum rampung kau tenun
demi do'a angin dan hening daun-daun
dalam rindu yang sunyi:
aku mencintaimu
seabadi air di cakrawala
tak luka ditikam matahari
kau, kata-kata dalam bayangan
kucumbu merah senja dagingmu dengan sederhana
bagai pasir yang kuyup oleh rinai
BUKIT SINYAL LONG PAKAQ
Di era modern saat ini,
komunikasi semakin lancar dengan munculnya teknologi canggih seperti handphone.
Dengan adanya alat komunikasi tersebut, maka jarak yang begitu jauh seakan tak
menjadi penghalang lagi bagi siapa saja untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Akan tetapi, hal sebaliknya justru dialami dan dirasakan oleh peserta SM-3T
(Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Teluar dan Tertinggal). Mereka yang
ditempatkan di lokasi yang tidak ada sinyal harus bersabar dan membiasakan diri
seakan hilang dari peradaban. Hehehe..
Wajha Syururah, S.Pd. dan Fitri
Rahmadani Syamsu, S.Pd. perserta SM-3T penempatan Kecamatan Long Pahangai,
Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur. Mereka sering disapa dengan
nama akrab Jeje’ dan Fitri. Sejak pertama mengetahui tempat pengabdian
nantinya di SDN 007 Long Pakaq Baru, sudah terlintas dalam pikiran bahwa
mereka akan mengalami keadaan seperti di atas yaitu hidup tanpa sinyal telepon
seluler.
Sungguh kesabaran mereka diuji,
bayangkan untuk berkomunikasi dengan orang tua di rumah, dua perempuan tangguh
ini harus mendaki gunung yang jarak tempuh dari rumah kontrakan mereka lumayan
jauh. Bagi mereka berdua, gunung itu sangat berharga karena sudah bisa menjadi
tempat untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang jauh dari mereka terutama
keluarga. Gunung tersebut adalah satu-satunya tempat yang ada sinyal telepon
seluler. Meskipun demikian, handphone yang digunakan untuk berkomunikasi harus
diletakkan diatas kayu penyangga agar sinyal bisa stabil.
Walaupun ditempatkan di daerah
seperti itu,tidak menjadi penghalang bagi kedua ibu guru itu untuk terus
mengabdi. Bagi mereka, keadaan seperti itu hanya akan berlangsung beberapa
bulan saja. Dedikasi yang tulus merupakan hal yang terpenting guna memajukan
pendidikan Indonesia.
Kedua peserta ini menaruh harapan
besar bagi sekolah yang mereka tempati mengabdi selama setahun. “Harapanku
terhadap sekolah ialah agar anak-anak murid saya bisa menjadi cerdas dan
berguna bagi nusa dan bangsa. Guru-guru yang ada disini juga agar lebih peduli
kebutuhan siswa akan pendidikan,” tutur Jeje’.“Sepeninggalanku, semoga siswa
siswiku nantinya mampu membaca dan berhitung dengan lancar. Guru-gurunya dapat
hadir tepat waktu, dan mengabdi setulusnya demi kemajuan pendidikan anak-anak
ini," tambah Fitri.
//Humas Asrama PPG SM3T VI UNM//
Penulis:
Noprianto Haran Juk
Editor :
Irmawati
Publikasi :
Julhan Rongga
Rahmad Prabowo
Langganan:
Postingan (Atom)


