Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Jurusan Matematika Berbenah Menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa.



 
Makassar, (Humas Asrama PPG SM3T UNM VI)-Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) Universitas Negeri Makassar (UNM) Angkatan VI,  Prodi Matematika yang berjumlah dua puluh (20) orang terus berbenah menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa (UKM ) dengan kegiatan  Belajar Kelompok Sabtu (13/03/2018) di Asrama PPG, Jl. Emy Saelan 03 Makassar.

Hasil pantauan Humas, Belajar Kelompok Jurusan Matematika  diikuti sekitar tiga 13 orang dan waktunya tiga kali satu minggu. Setelah  workshop di Kampus dan ada waktu kosong ketika di Asrama, langsung diisi untuk belajar kelompok dan hal itu merupakan hasil kesepakatan bersama. ternyata sebelum proses workshop dimulai mereka sudah mulai belajar kelompoknya. "belajar kelompok dimulai setelah 2 minggu masuk Asrama, sebelum mulai Workshop di Kampus,” Tutur Aris selaku ketua tingkat.

Semangat mereka yang menggebu-gebu sebagai bentuk merespon persantase kelulusan jurusan matematika angkatan sebelumnya bisa dikategorikan sangat rendah. Sehingga berawal dari melihat realitas tersebut, mereka berniat, bertekat, yaitu keinginan untuk lulus 100 % Ujian Kompetensi Mahasiswa, intinya lebih baik dari angkatan sebelumnya. "belajar kelompok untuk memperdalam ilmu dalam rangka menghadapi UKM, harapan 100% lulus," Ujar Aris.
 
Dalam proses Belajar Kelompok mereka sama-sama bekerja menyelesaikan soal yang ada, mahasiswa yang kemampuannya masih rendah, mereka sama-sama membimbing, menuntun, dan saling melengkapi kekurangan yang ada, sehingga kemampuannya yang masih kurang bisa meningkat. 

Belajar Kelompok sangat penting untuk semua Mahasiswa PPG SM3T LPTK UNM Angkatan VI,  salah satu instrumen untuk menambah khazanah pengetahuan, belajar untuk berbagi, belajar menghargai, menuntun, dan membimbing sesama.   

Proses tersebut akan berbanding lurus dengan hasil yang akan dicapai, hasil biasanya tidak menghianati proses dan konsekuensi logisnya  juga peningkatan Kompetensi dan predikat Guru Profesional bisa tercapai.
 
Aris selaku ketua tingkat Jurusan  Matematika mengatakan Kadang memulai sesuatu lebih mudah dari pada mempertahankannya, belajar kelompok harus membumi di Asrama dan harus semangat  merawat  keberlansungannya demi kelulusan nantinya. 

“Alhamdulillah sampan sejauh ini Jurusan Matematika masih tetap semangat, caranya semua tugas kegiatan Workshop harus selesai  di Workshop dan di Asrama harus belajar dan belajar,” Jelasnya.

//Humas Asrama PPG SM3T LPTK UNM//



Penulis :

Muhamad Suman, S.Pd






Jumat, 09 Maret 2018

BUKIT SINYAL LONG PAKAQ


 
Di era modern saat ini, komunikasi semakin lancar dengan munculnya teknologi canggih seperti handphone. Dengan adanya alat komunikasi tersebut, maka jarak yang begitu jauh seakan tak menjadi penghalang lagi bagi siapa saja untuk berkomunikasi dengan orang lain. Akan tetapi, hal sebaliknya justru dialami dan dirasakan oleh peserta SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Teluar dan Tertinggal). Mereka yang ditempatkan di lokasi yang tidak ada sinyal harus bersabar dan membiasakan diri seakan hilang dari peradaban. Hehehe..

Wajha Syururah, S.Pd. dan Fitri Rahmadani Syamsu, S.Pd. perserta SM-3T penempatan Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur. Mereka sering disapa dengan nama akrab Jeje’ dan Fitri. Sejak pertama mengetahui tempat pengabdian nantinya  di SDN 007 Long Pakaq Baru, sudah terlintas dalam pikiran bahwa mereka akan mengalami keadaan seperti di atas yaitu hidup tanpa sinyal telepon seluler.

Sungguh kesabaran mereka diuji, bayangkan untuk berkomunikasi dengan orang tua di rumah, dua perempuan tangguh ini harus mendaki gunung yang jarak tempuh dari rumah kontrakan mereka lumayan jauh. Bagi mereka berdua, gunung itu sangat berharga karena sudah bisa menjadi tempat untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang jauh dari mereka terutama keluarga. Gunung tersebut adalah satu-satunya tempat yang ada sinyal telepon seluler. Meskipun demikian, handphone yang digunakan untuk berkomunikasi harus diletakkan diatas kayu penyangga agar sinyal bisa stabil.

Walaupun ditempatkan di daerah seperti itu,tidak menjadi penghalang bagi kedua ibu guru itu untuk terus mengabdi. Bagi mereka, keadaan seperti itu hanya akan berlangsung beberapa bulan saja. Dedikasi yang tulus merupakan hal yang terpenting guna memajukan pendidikan Indonesia.

Kedua peserta ini menaruh harapan besar bagi sekolah yang mereka tempati mengabdi selama setahun. “Harapanku terhadap sekolah ialah agar anak-anak murid saya bisa menjadi cerdas dan berguna bagi nusa dan bangsa. Guru-guru yang ada disini juga agar lebih peduli kebutuhan siswa akan pendidikan,” tutur Jeje’.“Sepeninggalanku, semoga siswa siswiku nantinya mampu membaca dan berhitung dengan lancar. Guru-gurunya dapat hadir tepat waktu, dan mengabdi setulusnya demi kemajuan pendidikan anak-anak ini," tambah Fitri.

//Humas Asrama PPG SM3T VI UNM//

Penulis: 
Noprianto Haran Juk

Editor  : 
Irmawati

Publikasi : 
Julhan Rongga
Rahmad Prabowo