Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Agustus 2018

(A)GAK (K)IRI

(A)GAK  (K)IRI



Sebenarnya aku mau, tapi waktu yang gak mau
Sebenarnya aku mau, tapi situasi yang gak mau
Sebenarnya aku mau, iya sebenarnya aku mau

Ketika mendengar lantunan itu
Aku tak menyuruh.... Kemudian dia memberontak...
Ia mengalir dengan sendirinya... 
Semakin ku tahan semakin menjadi
Mungkin baper... 
Mungkin rindu... 
Atau mungkin menyesal... Mungkin juga marah... 
Entahlah, yang jelas aku tak kuasa menahannya

Bukannya tak sayang.... 
Bukannya tak cinta... 
Bukannya tak perduli dan acuh... 
Itu salah kawan... 
Ingin sebenarnya sama dengan yang lain 

Luas sekitar 5 x 3.5 meter
Diketinggian sekitar 16 meter
Dikelilingi pagar beton yang menjulang
Dilengkapi dengan penjagaan 24 jam
Dari jendela aku memandangi langit dan bintang
Angin dan nyamuk silih berganti menyapa
Disinilah aku merayakan...

Makassar, 22 Agustus 2018
Karya : Muhammad Nurudin

Rabu, 25 April 2018

"Laki-laki di Balik Bantal," Oleh : Rose Ruli (Puisi)

"Laki-laki di Balik Bantal"
              (Rose Ruli)



Kau bukanlah sebatas karya kamera seluler milikku
yang diam terpaku dalam penjara bingkai waktu
Meski jelas bibirmu beku tanpa gerak a, i, u
Sorot matamu tak henti beri balas tentang kemarinku
Kaulah laki-laki di balik bantal kepalaku
Maya yang kukejar di siang dan malamku
Semu yang keluyuran di lamun dan mimpiku
Tokoh yang hilang di tengah klimaks hari rabu
Jika ada yang lebih ampuh dari maki akan kuucap itu
Biar puas seluruh aku
Agar tiada lagi malu yang palsu
Meski harus buatmu semakin lari dariku
Kaulah laki-laki di balik bantal kepalaku
Tokoh yang hilang di tengah klimaks hari rabu
Si tertuduh yang membisu karena pilihan dia atau aku
Penipu yang rajin menanak rindu  di ubun-ubunku
Hei kau, laki-laki di balik bantal kepalaku
Kucatat setahun sebelum hari ini di memoriku tentangmu
Persiapan pernikahan kawanmu malam itu
Pertama kali kau panggil aku kekasihmu
Hari-hari setelahnya tak usah kujelaskan padamu
Aku yakin kau pun mampu sebutkan satu per satu
Tiada indah yang tak kau upayakan kala itu
Sudah seperti ratu saja diriku
Ah, kurang ajar kau!
Seenaknya tinggalkan janji untuk hari wisudaku
Bahkan kau janjikan pula hari yang lebih manis setelah itu
Sungguh, kecewaku tiada tuntas sebelum bukti melunasi hutang janjimu padaku
Kaulah laki-laki di balik bantal kepalaku
Tokoh yang hilang di tengah klimaks hari rabu
Aku ingin hanya ada malam di hari-hariku
Agar terus kumimpikan ilustrasi kemarin bersama bayangmu


                 (Rusunawa, 20 April 2018)

Selasa, 13 Maret 2018

(Puisi) APA YANG KAU CEMASKAN?, Karya: Arifin T. Badu



Apa yang kau harapkan dari angin selain dingin?
kau, sebagaimana pula aku tentu punya rindu, bukan?
kehangatan yang kau cemaskan
ada di antara jemariku
kau boleh ke dalam dagingku
ada denyut yang butuh kau lecut

apa yang kau harapkan dari malam selain sepi?
kau hanya perlu pejamkan mata
dan tidurlah
lalu biarkan aku menjagamu
hingga esok, matahari terbit dari matamu

apa yang kau cemaskan dari hujan selain basah?
aku tahu tanganmu dingin
tapi aku tak kuasa mengenggammu
kata-kataku patah-patah oleh senyummu

aku mencemaskanmu
setiap kali berpapasan
dadamu, sebagaimana dadaku
berdegup kencang
dan hanya kita yang tahu sebabnya.


Makassar, Februari 2018

Senin, 12 Maret 2018

(Puisi) Matahari Cilik, Oleh : Poci

Matahari Cilik
Oleh : Poci



Pagi pada Matahari bening
Di wajah cilik riang menyambut pagi
Semangat asa terpancar dari wajah si-cilik
Hingga angan dan cita tergantung pelangi

sayup pandangannya pada bias fajar
Sebab dibalik lembaran pagi
Ia rajuk masadepan dengan asa
yang 'kan menyatu dengan angan
Hingga Imajinasi memuncak
 menggapai asa,,

Tapi mata tetap sayup,,
Tunduk pada sinar Matahari
Seakan Si Cilik ragu dengan pagi
Matahari dengan beningnya tetap berlalu
bersama pelangi Ia bawa angan masadepan Si-Cilik,,,

Itu Sepenggal cerita
Si-Cilik dengan wajah yang beninar
bersama asa di lembaran pagi yang cerah
Menatap sayup bias matahari yang bening,,,


"SM-3T UNM Ang.VI"
Long Pahangai 21 juli 2017

Ingin Ku (Puisi), oleh : Ms. One

Ingin Ku



Ingin ku luapkan emosi ku
Ku Luapkan emosi dalam kata
Ku tulis dalam bait syair ku
Agar kau bisa membacanya sebagai doa

Ingin ku luapkan emosi ku
Ku luapkan lewat suara
Ku berteriak melalui lubang suling ku
Agar teriakan ku yang sumbang bisa kau dengar dengan alunan nada

Ingin ku luapkan emosi ku
Ku luapkan lewat senyuman
Senyuman termanis dariku
Agar kau selalu melihat ku terlihat nyaman

Ingin ku luapkan emosi ku
Ku luapkan dalam hening
Ku terdiam dan tak terlihat kaku
Agar kau selalu melihat ku terlihat tenang

Ingin ku luapkan emosi ku
Ku luapkan dalam hati
Ku biarkan tersentuh
Harap ku, kau mengerti

- Ms. One

Minggu, 11 Maret 2018

"Janji Masa" (Puisi), oleh : Ruli Bell

"Janji Masa"



Ingin kubujuk Tuhan 'tuk pulangkan saat itu
Ketika sore mengantar matahari pulang
di atas langkah kaki sepasang manusia
yang baru saja saling menyapa

Akan kukenalkan memori hari-hari berikutnya
Serentet masa yang cairkan jenuh dalam guyonan
Bukan kali pertama, namun itu berbeda
Sebab aku boleh jujur dalam tawaku sejak itu

Lalu apa yang bawa kita kemari?
Sebut saja ia 'cinta'
Yang pertemukan rasa di antara kita
Lalu merajutnya atas nama kenyamanan

Kau lukis kisah baru di atas kanvas hidupku
Tepat di sisi yang sengaja kusunyikan
Kau tawan ceriaku di poros harimu
Hingga tak kukenang lagi sendiriku yang kemarin

Aku mulai terlena dengan romantisme
Aku lupa tagihan masa akan jatuh tempo
Aku masih ingin disini bersamamu
Tuliskan cerita di langit kota Merauke

Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah
Itu katamu saat waktu hendak membawamu
Asingkanmu di depan bentangan jarak
Yang tak mampu kususuri

Mestinya kau tahu betapa sukarnya rindu kuelakkan
Kala ia merayu di tepian sepiku
Mengusik khayalku jejaki bayangmu
Di setiap sudut ruang kamarku

Masa kembali datang menemuiku
Kali ini ia mengajakku pergi bersamanya
Tapi bukan padamu
Ia justru janjikan hari-hari tanpamu

Jelas tak akan mudah 'tuk kulalui
Namun masa beriku iming-iming
Kelak ia 'kan membawa kita kembali kesini
Berjumpa dalam rindu yang meradang

Luapan cemas coba kubendung
Esok aku kembali dan berbalik menagih masa
Untuk harapan yang lahir dari janjinya
Aku tak ingin terkhianati masa


Ruli Bell (Merauke, 20 Sept. 2016)

Rabu, 07 Maret 2018

Aku Dalam Kenangan (Puisi), oleh : Hajrah Nengsih

                                   AKU DALAM KENANGAN
                                               (Hadiah manis dari anak papua)
                                                                                Oleh: Hajrah Nengsih



Setahun lalu, gerak lincah dan senyum polosmu datang
Di antara tembok2 bisu sekolahmu, doa dan lagu pengantar
Jemari kecil nan lentikmu bergerak membentuk huruf.
Suara nyaringmu mengeja suku kata dan tiap tanyamu akan banyak hal.
Dengan jemari mungilmu, kau memainkan penamu
Dengan Suara lantang memanggil, ternyiang begitu hebat.
Aku pernah dalam sepi, kau datang menawarkan kisah leluconmu.
Aku pernah dalam duka, kau datang menawarkan tawa,
aku prrnah dalam tangis, kau datang dengan senyum polos menyeka air mata.
Bagaimana bisa sepi sebagai temanku?
Bagaimana bisa kedua bola mata menumpahkan cairannya?
Tp Kini...
Di sudut kamar sunyiku, sayup2 kubuka lembar kisah yg tertulis rapi bertinta emas.
Semua berawal saat kegelapan menutupi terang.
Ketika alam dan isinya mulai menguap bersiap2 memasuki keheningan.
 Cawan2 yg berisi air mata pun mulai mengering Menumpahkan cairannya.
Kau tahu apa yang kutemukan?
KENANGAN!
Malam berlalu, angin mulai ikut terbawa suasana hati,
tatkala suara petir membentak jantungku
menghentikan serasa denyut nadi
hingga petir menurunkan titahnya pada hujan yg bagaikan tangisku.
Kenang aku..
Selipkan aku di salah satu sudut ingatanmu,
tak mengapa di tempat terkecil. aku pernah di sni,
mengukir tawa dan membangun kisah.
Yah, Beberapa org memasuki hidupmu memberi kenangan sebelum pergi.
Satu2nya yg dapat dilakukan adalah mengingatnya selama mungkin dalam ingatanmu.
kelak,berkunjunglah sejenak dalam sudut ingatan yg kau bangun.
Selipkan aku di sudut ingatanmu...
Saat langkah terayun, jarak akan membentang,
Akankah aku terkenang? Atau hanyut bersama gelombang?
Aku pergi...
Rindu akan menjadi teman sejatiku.
Tawamu akan menjadi bayang kerinduan
Tingkah polosmu akan menjadi penawar sepiku
 kenanganmu abadi dalam ingatanku.
Jangan menangis..
Karena...
Sebuah perjumpaan mustahil abadi.

Sekali Lagi Buram (Puisi), oleh : Nasrul Haq

Sekali lagi buram
Oleh : Nasrul Haq



Alam cepat mengganti pagi menjadi malam
Namun apa yang terkurung tak pernah mampu kulepaskan
Aku bingung mengapa selalu ada batas
Itu selalu kau mungkinkan walaupun benar yang selalu kuinginkan

Masihkah kau salah memandang dengan tanganku yang terlihat takut
Sebenarnya aku ini masih dikucilkan dengan senyummu yang telah diperebutkan
Aku masih belum berani karena aku masih tak ingin ada sesak
Biar terbayang dulu dan kupelihara didalam rongga dada

Jangan salah paham dengan kepura-puraan yang kubiarkan hidup
Nanti berani itu juga akan datang dibangun dari pagiku
Melangkah tangga satu persatu sebanyak cerita selama ini
Sampai ada titik diatas meja itu, kau bersihkan dan memunculkan harapan

Cinta yang sebenarnya tak lagi takut dan lagu akan berterus terang
Tapi itu mungkin nanti,
 sikapku sederhana
aku senang masih memandangmu dari kejauhan


Untuk seseorang yang bukan dari diriku
Tanggal 07-03-2018

Selasa, 06 Maret 2018

"Sesirat Dendamku di Cinta Yang Lalu" (Puisi), oleh : Mike Rio

Sesirat Dendamku di Cinta Yang Lalu
                             oleh: mike rio (@mr_ahmad_jais)



Jika saja ku tau kau hanyalah sebatas manis
Aku tak akan pernah berniat menerjemahkan senyummu,
Senyum yang pernah aku titipkan di hatiku.
Dulu disana adalah tempat terindah
Namun kini tidak ubahnya hanyalah sebuah kekosongan,
Kehampaan tanpa rasa.
Aku tak sakit hati dari penghianatanmu
Tapi aku kini terlahir dari kebanyakan orang.
Iya,
Orang baik yang menjadi jahat karena tersakiti.
Aku juga pernah meyandingkanmu dengan purnama,
Yang indahnya tak akan pernah pudar sepanjang malam masih setia bersua dengannya.
Dan akulah malam itu,
Bahkan jika aku tak salah ingat aku pernah mendewikanmu.
Semuanya sempurna ketika itu.
Tentang parasmu,
Tentang keanggunan sifatmu,
Dan juga tentang lembutnya tuturmu.
Aku benci tertakdir sekali saja di sandiwaramu itu,
Padahal aku telah merencanakan skenario terbaik untuk berbalas menyakitimu.
Terakhir aku ucapkan selamat,
Kini kau telah menjadi putri yang berhias mahkota indah di rambut indahmu.
Kini aku tak demdam lagi tentang masa lalu itu
Karena kita sudah tak berada di sana lagi.


sumbangsih cinta
Biro Kesenian
PPG 2018 Universitas Negeri Makassar.

"Asrama PPG SM-3T UNM Ang. VI" (Puisi), oleh : Poci

"Asrama PPG SM-3T UNM Ang. VI"
" Poci"



Kali ini aku mencoba menjadi romantis
Seperti laki-laki yang kau puja,,,
Laki-laki yang selalu ada dalam ingatan'mu,,
Surat ini saya tulis saat senja mulai tampak,,,
saat metahari mulai kembali keperaduannya,,,

Aku yang berharap jadi laki-lakimu,,
berharap menjadi senja disetiap harimu,,,
Tentu kau bertanya,,,??
Kenapa Aku mengumpamakan cinta'Ku dengan Senja,,,
saat ini tak usah Aku Jawab dulu,,,
yang jelas tak usah kau khawatir Aku selalu hadir disetiap harimu,,,
Seperti halnya senja yang selalu kau temui,,,,

Kau yang aku harap jadi perempuan'Ku
Bagiku senaja adalah pengembara,,,
dimana disetiap lekuk senyumnya tergambar pahit manis hidup,,,
di matanya terkam jelas  ketulusan cinta dan sayang,,,
 dan yang pesti keberadaanya selalu dirindukan,,
tidak terkecuali kau Perempuan'Ku,,,

Jadi kau yang Perempuan'Ku tidak usah khawatir,,,
 Senjaku tetep akan menjadi senja'Mu,,,
lekuk senyum'Ku tetep akan jadi milik'Mu,,
dan yang pasti ketulusan cinta dan sayang tetap akan jadi milik'Mu,,

Dan waktu Aku tulis surat ini,,
 Senja berlahan mialai hilang,,
cahaya senjanya mulai kalah dengan gelap yang dibawa bulan,,
tapi yang pasti cahaya senja bagai candu,, indahnya semu tertelan malam namun keesokan harinya dia hadir dengan keindahan yang sama,,,

Jadi kau perempuan'ku,,,
seiring hilangnya senja,,,
 dan kopi di depanku sudah tak pahit lagi,,
imajinasi tentang romantis berlahan pula hilang,,
tapi jangan khawatir,,
 besok Aku seduh Kopi dengan Hitam pekat dengan takaran yang cukup banyak,,
supaya Aku bisa berlama-lama berimajinasi menyampaikan SENJA'KU pada'Mu,,,,

Haaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,,,,,,,

Minggu, 04 Maret 2018

"Aku Yang Mengagumimu" (Puisi), Karya : Muhammad Nurudin


"Aku Yang Mengagumimu"
Karya : Muhammad Nurudin



Garing, kering, tak berbasah oleh air
Rasanya,,, tak sebeda layaknya micin
Melihat namamupun aku enggan
Terlebih mengintipmu

Tak menguasa atas keterbolak balikan hati ini
Bukan pemilik langit bumi
Bukan pencipta gunung berapi
Ku akui,,, 
Seiring bergantinya jarum jam
Aku serasa mengagumimu

Facebook, instagram, tapi tak termasuk TV nasional
Mencerita segala rupamu nan rupawan
Tak jarang berarti kerap
Ku menemukanmu melalui pesan whatsApp

Ku bertanya pada rumput, dia bilang tidak
Ku bertanya pada angin, dia bilang iya
Ku bertanya pada air, dia bilang mungkin
Ku bertanya pada rembulan, dia bilang perjuangkan
Ku bertanya pada matahari, dia bilang lupakan
Ku bertanya pada bintang, dia bilang tinggalkan
Lantas ku membisik pada kebisingan, dia justru terapkan jurus membisu
Kawan,,, 
Inikah yang dinamakan generasi milenial??? 

Berpacu pada hitam di atas putih
Tersahkan oleh berwarna biru
Harap - harap cemas
Ku berpasrah harus berpisah
Untuk sementara atau selamanya
Yang jelas,,, 5 bulan tidak berjumpa tanpa suara
1 tahun kebersamaan seolah tak membekas
Bak melukis sayur bening bayam dipinggir pantai
Memang,,,
Terkadang kita harus menyukai senja walau ia mengantarkan pada kegelapan

Senyum berpancar seketika kau memanggilku dibulan lalu
Aku beradu syukur seraya tersipu malu,,,
Kau terlukis indah di bola mataku,,,
Katanya orang,, itu artinya kita semakin dekat,,,
ternyata memang dekat
Aku mengupaya lebih bangkit lagi,,, saat ini,,, 
Aku ikuti aturanmu
Aku ikuti prosesmu
Aku ingin menahu terbuas apa peraturan yang kau terapkan
Ingin membantahmupun segera aku tangguhkan

Kalau sudah buntu,,, yaaaaa,, 
Aku pecahkan saja nanti dinding beton itu
Aku patahkan saja nanti kabel listrik itu
Aku dobrak,,, 
Gak papa,,, kenapa,,,??? 
Biar rame,,, 
Biar gaduh gemuruh

Aku tahu
Aku sekedar tahu tak ada tanpa terencana
Kesemuanya atas ketetapan-Nya
Akupun tahu banyak yang bilang-bilang
Sekalipun orang terdekatmu yang bilang-bilang
Tapi aku yakin
Ya,,, aku tetap yakin
Aku beryakin suatu saat aku tak hanya sekedar mengagumimu

Makassar, 4 Maret 2018



Prodi PPKn PPG SM3T VI tahun 2018
Universitas Negeri Makassar

Jumat, 02 Maret 2018

(Puisi) Aku, Dia dan Ketidakpastian "Part 1", Karya : Arham N.H.

Aku, Dia dan ketidakpastian “part 1”
Karya : Arham Nur Hidayat




Ku’terbangun dengan sentuhan udara pagi
Melirik cahaya mentari
Aliran air suci  masih membekas dipipiku
Ku’berjalan dengan turunan anak tangga tak berujung
Sampai ku’terlelap dalam kebingungan
Ku’menatap wajah dengan senyuman di meja makan
Alur pemikiran ketidakpastian menusuk detakan jantung
Dia, Aku, terbalut ketidakpastian………..
To be continue……….

Makassar,  2 Maret 2018


PPG SM3T VI 2018
Program Studi Sosiologi
Universitas Negeri Makassar

Kamis, 01 Maret 2018

(Puisi) Mike rio : Ijinkan Aku Menceritakan Air Matamu !

Ijinkan  Aku  Menceritakan   Air   Matamu !
mike rio(@mr.ahmad_jais)



Dalam  Gelap  yang  ditemani  pena,
Aku  masih  samar-samar  melihat   bayangmu,
Bayang   terakhirmu   sebelum  beranjak  meninggalkanku

Sejauh     yang     kuingat,
Pesan  perpisahan  terakhirmu  adalah  tangisan
Aku  tak  mau   bingung  dengan   keputusanmu
Kau    yang    tetap   menangis   dan  tak  mau   memberiku   alasan

Ini   hemat   katamu   waktu  itu,  
“kau   lelaki    yang    baik,   tapi  tolong  tinggalkanaku”
Ucapmu   dalam   tangis    yang   semakin  merumitkan  pengertianku
Sesaat  kemudian  kau  masih  saja   terdiam   tanpa  kata
Namun  masih    meneteskan    air   mata

Dan aku?
Aku  hanya  mendiamkanmu,
Apakah  aku  harus  memintamu  beralasan?
Kurasa  itu  tak  perlu
Aku  cukup  memaknai  arti  tangisanmu  dengan   kepala  yang  tertunduk   di  depanku

Terakhir  kau  masih  memintaku   mengantarmu   pulang
Aku   pahami  itu,
Mungkin   ini  cara  terakhirmu  membuatku   agar   selalu  teringat
Warna  jingga  atap  rumahmu
Walaupun  kita  ditakdirkan   tak   berjodoh.

(Makassar, 01 februari 2018)

Cat:
Sesosok teman yang memiliki kisah sangat mengispirasi. Dia yang terjebak dalam hubungan asmara yang tak terjodohkan oleh takdir tuhan, yang dibuat semakin tak mengerti oleh keputusan tangis secara sepihak. Dan dia menerima semua itu tanpa perlu penjelasan. Hingga akhirnya wanita yang ia relakan itu sedikit lagi akan menjadi milik sah seseorang lelaki beruntung. Dia mengikhlaskan itu.

===
Biro Kesenian Asrama PPG SM3T VI 2018
Universitas Negeri Makassar

(Puisi) Kau Yang Ku Rindukan, Karya : Muhammad Nurudin || PPG SM3T VI UNM


"Kau Yang Ku Rindukan"
Karya : Muhammad Nurudin



Hangat mentari teracik embun
Terbit bayanganmu menghantui
Ku berkesah hari ini
Adakah secercah harapan sekedar menyapa

Mengisah dikala slalu ada
Acap kali termudahkan menemukanmu
Bahkan ketika tak mengharap hadir
Berlebih,,  saat kondisi membelit
Kau satunya gudang spirit

Dibalik pagar besi pembatas yang berlapis
Atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang
Disambut oleh aturan yang menjepit
Tugas yang kian rumit
Penyebab rindu ini semakin menjerit

Sesuai layaknya mereka
Ku berdiri berbaris rapi mendekati tahta kebesaranmu 3 kali sehari
Meyakinkan untuk yakin
Kau ada disana bersama yang lain
Namun,,, 
Lagi,, kemudian lagi,,, bergemuruh mewarnai
Nampaknya dikau tak tersaji disana

Terkadang semesta ini mengajak bercanda
Seolah tak kenal kompromi dan upeti
Ku terperangah atas hadirmu teriring gemricik hujan tersertai manjanya angin
Dan,,, kini tiba pada 1 sendok suapan terakhir
Menyusun harap usai pertemuan berkesan tanpa toleransi ini
Aku teringin kau menahu
Bahwa betapa sungguh teramat aku merindukanmu


Makassar,  1 Maret 2018
PPG Program Studi PPKn
Universitas Negeri Makassar

Rabu, 28 Februari 2018

(Puisi) LIAR, Karya : Poci

Makassar,  (Humas Asrama PPG SM3T VI) - 

LIAR
Karya : Poci




Katanya kekasih'Ku
Kau seperti mawar
Merah terpancar,
 harum menyebar
nafsu memuncak,,, 
bulu berkecamuk,,,
hingga klimaks puncak kenikmatan,,,

Katanya kekasih'Ku
dari Birahi terpancar
Lekuk nafas,, Menebar oral
berkecamuk,,,
meronta,,, 
beringas,,,,
menembus nikmat

katanya kekasih'Ku
dar Bau tubuh, bercampur satu
Dua genggam jari,,menumpuk jadi satu
liuk meronta,,, berbagi nikmat satu

Katanya kekasih'Ku
dari hati,,,
Yang dari dua,, jadi satu
yang kosong sudah terisi
Hati yang sepi sudah tak-lagi

Katanya kekasih'Ku
Puncaknya nikmat dunia 
Sudah jadi satu
Kau,,,,Aku



Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pasca SM3T VI
Universitas Negeri Makassar 
Program Studi Pendiidkan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tahun 2018